Rabu, 29 April 2015

FSLDK NUSRA Masa Bakti 2014-2015

             Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (FSLDK  Indonesia) terdiri dari 37 PUSKOMDA lebih dari 614 LDK se-Nusantara. Adapun untuk FSLDKD NUSRA menangungi 7 LDK se-Nusa Tenggara diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. LDK KAMIL STMIK Bumi Gora Mataram
  2. LDK An-Nur IKIP Mataram
  3. LDK Al-Abror STKIP Hamzanwadi Pancor Lombok Timur
  4. LDK Al-Mujahidin Anjani Lombok Timur 
  5. LDM SM Universitas Samawa
  6. LDK SM Universitas Cordova
  7. LDK Baabul Hikmah Universitas Mataram di Mataram
Adapun Program Umum PUSKOMDA NUSRA adalah sebagai berikut :
  1. Transfer Hasil Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) III
  2. Merumuskan Program Kerja
  3. Resuffle Kepengurusan
  4. Sarasehan LDK
  5. FSLDKN XVII

Selasa, 28 April 2015

DILATASI SAINS INDONESIA

Berbicara mengenai pendidikan sains di Indonesia, ada hal besar yang harus kita analisis. Pendidikan sains berarti belajar dan mempelajari tentang ilmu-ilmu yang bersifat empiris dan ilmiah, seperti belajar ilmu matematika, fisika, kimia dan biologi. Tapi kemudian pertanyaan baru muncul, setelah mempelajari itu  semua, adakah aplikasi yang membawa manfaat untuk perkembangan Indonesia? Nyatanya, setelah berpuluh tahun Indonesia mengenal sains, Indonesia tetap mengekor bangsa lain yang notabene-nya sama-sama memiliki pendidikan sains? Contohnya saja, Indonesia masih mengimpor besar-besaran teknologi luar negeri, yang apabila kita renungkan teknologi adalah aplikasi dari pendidikan sains, bahkan Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi, sebagai lembaga Iptek bergengsi yang pernah dipimpin oleh Begawan  Iptek B.J Habibie, dinilai pemerintah cukup dinahkodai oleh seorang sarjana sastra? Dan LIPI yang bertahun-tahun dipimpin oleh pakar teknolog mulai dari Prof. Bahtiar Rivai, Prof. Doddy A. Tisna Amidjadja, Prof. Saman Samadikun, sampai pada Dr. Sofyan Tsauri juga dianggap cukup dikoordinasikan oleh pakar sejarah? Jadi dimanakah letak pendidikan sains di Indonesia, jika kita pun sudah salah langkah dan kurangnya perhatian dalam pengembangan aplikasi pendidikan sains di Indonesia.
Saat ini pun di Indonesia mengalami dikotomi ilmu sains dengan ilmu agama. Lembaga pendidikan yang seharusnya menyatukan kedua ilmu tersebut tetapi pada kenyataannya ada dinding pemisah di antara keduanya. Contohnya saja universitas-universitas Islam Indonesia, fakultas-fakultas yang ada di dalamnya mengkaji hal-hal yang bersifat agamis saja, tidak ada sainsnya, dan universitas-universitas yang bukan Islam, tidak mengkaji masalah keagamaan. Lalu bagaimanakah caranya untuk mencerdaskan orang shaleh atau mensalehkan orang cerdas? Dapatkah kita membayangkan hal ini? Itu artinya pendidikan sains di Indonesia masih pasif, belum menyatu secara terpadu.
Dengan fenomena ini, akhirnya universitas di Indonesia dituntut ada fakultas yang mampu menggabungkan keduanya. Inilah genderang pertama perubahan IAIN menjadi UIN di Indonesia. IAIN Jakarta ini sekarang bertambah dengan fakultas-fakultas yang berhubungan dengan sains dan teknik. Tidak hanya itu juga, universitas yang tersebar di Indonesia pun tidak lupat dengan tuntutan di tambahnya fakultas yang nantinya akan menelurkan SDM-SDM baru yang lebih handal yang akan mengajarkan ilmu sains, yang saat ini sudah terkenal dengan sebutan FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Dari FKIP inilah lahir sosok baru yang disebut guru, dan di tangan guru pendidikan sains akan menemukan ahlinya. Pesan untuk guru maupun calon guru, saat ini tongkat estafet sains dipegang, harapannya mampu menjadi guru yang profesional agar mampu menerobos dunia persaingan dalam kancah internasional. Tidak hanya sekedar tuntutan profesi dan arena bisnis.
SDM Indonesia, seperti anak bangsa yang bersaing dalam bidang olimpiade sains pun belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah, mereka hanya menjadi budak sains belaka tanpa ada aplikasi selanjutnya, padahal mereka adalah aset bangsa ini. Sarjana-sarjana muda produk pendidikan sains, mereka berlari ke luar negeri dan menetap di sana dengan alasan di luar negeri lebih mumpuni, mereka kehilangan tanggung jawab untuk mengembangkan Indonesia.
Ilmu sains yang hidup dan berkembang, yang guritanya telah mampu menembus pelbagai dimensi hidup manusia, secara etis mesti ditundukkan dalam bingkai penghambaan kepada kemanusiaan. Bila tidak ia akan tumbuh secara liar dan memporak-porandakan kemanusiaan itu sendiri. Momentum awal millennium ini adalah saat yang tepat untuk berefleksi tentang persoalan ini dalam konteks Indonesia yang tengah mereformasi  diri memasuki era global.

Paradigma ilmu sains paling awal yang mengesankan adalah penghambaannya pada spiritualitas. Jargon paling nyata yang menggambarkan sikap ini adalahprimum vivere, deinde philosophari (berjuang dulu untuk hidup baru setelah itu berfalsafah). Ilmu sains berada di atas hidup itu sendiri. Dia dipahami sebagai aktivitas mental yang membebaskan jiwa. Ilmu untuk ilmu, untuk rekreasi intelektual menuju kebijaksanaan.
Mengapa ilmu yang sangat indah ini,
yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah,
hanya membawa kebahagiaan yang sangat sedikit?
Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual
malah menjadikan manusia-manusia budak mesin,
dimana setelah hari melelahkan
kebanyakan dari mereka pulang dengan rasa mual,
dan harus terus gemetar untuk memperoleh ransum
penghasilan yang tidak seberapa.
Jawaban yang sederhana adalah karena kita belum lagi
belajar bagaimana menggunakannya secara wajar
(Albert Einstein)

Lalu apa yang harus kita lakukan dengan semua fenomena ini? Solusinya apapun peran kita laksanakanlah dengan sebaik-baiknya. Untuk pemerintah harus lebih perhatian dengan para aset bangsa dalam dunia pendidikan sains, jangan lupa bagi pemegang sains nikmatilah ilmu sains sebagai taman bermain, jadilah bintang-bintang dalam samudera jagad raya, jangan menjadi budak ilmu yang akan menjadikan  kita penguasa yang dictator, agar penyesalan Einstein di hadapan para belia mahasiswa California Institute of Tecnology di atas menjadi bermakna.

dunia dibalik Jendela

“Ini Ibu Budi”
“Ini Ibu Budi”, jawab anak-anak serempak. Dari balik dinding kardus suara mereka terdengar begitu lantang, suara anak-anak didik Ningrum yang berkisar dari umur enam sampai sepuluh tahun. Sementara aku yang di sini mengajarkan tentang ilmu fisika bab energi, anak didikku berkisar antara umur 11 sampai 17 tahun. Mereka semua adalah anak-anak yang putus sekolah, bahkan memang ada yang tidak sekolah sama sekali.
* * *
Ku sipitkan mataku ketika jarum-jarum runcing sinar mentari menerobos masuk melalui lubang dinding kamarku. Ibuku telah pergi mendahuluiku. Ku gendong tas bambu yang mulai rapuh anyamannya, tapi tas inilah yang menampung rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidup adik-adik didikku. Bersama yang lain, ku telusuri lorong kota Jakarta. Saat ini aku sedang berdiri di atas kota pusat kemewahan negeri ini. Ku lihat banyak orang lalu-lalang dengan berbagai macam aktivitas. Ada yang sibuk mendorong gerobak, mereka adalah pedagang kaki lima, yang nasibnya beruntung kalau tidak ada razia. Terkadang terjadi adu kekuatan antara aparat dengan para pedagang, dan nasib ibuku ada di sana. Aku hanya bisa tersenyum melihat pemandangan pagi hari di kota Jakarta. Ku alihkan pandanganku di setiap sudut penjuru kota, mereka berebut peluang untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah. Kemudian pandanganku terganggu dengan aktivitas sekelompok pemuda, kembali ku berkhayal dengan mimpi-mimpi gilaku. Seandainya aku seperti mereka mungkin saat ini aku juga sibuk membawa buku-buku diktat, mengumpulkan tugas, berebut jalan menuju kampus, dan tas yang ada dibalik punggungku mungkin bukan tas anyaman bambu tapi tas kulit yang mahal harganya, akh…segera ku buang jauh-jauh pikiranku yang kacau karena kalut dengan mimpi-mimpi. Pandanganku lurus ke depan, ku tatap barisan panjang. Mereka memakai tas yang sama persis dengan yang ada di punggungku. Terus ku tatap mereka satu persatu hingga berhenti tepat dengan orang di depan mataku, Ningrum! segera ku tersadar, ternyata aku adalah bagian dari mereka. Rasanya ingin menertawai diri-sendiri. Pekerjaan kami tidak jauh berbeda dengan mereka yang berada di dalam mobil, kami sama-sama mengais rupiah, bedanya hanya mereka berdasi dan kami tidak. HIDUP PEMULUNG!!! Itulah jargon kami, dan kami bangga berprofesi sebagai pemulung. Kami begitu bersemangat karena semangat adalah modal untuk hidup bagi orang-orang seperti kami. Jeli dalam memilih dan memilah sampah. Jika azan berkumandang, kami berhenti mengais sampah sejenak untuk menunaikan shalat, tak lupa kami berdoa agar diberi rezeki yang banyak, karena kami yakin bahwa Allah Maha Penyayang kepada para hamba-Nya. Tak kenal lelah meskipun sang raja siang menampakkan seluruh sinarnya yang panas membakar kulit. Jika senja membentangkan sayapnya di ambang cakrawala, pertanda bahwa kami harus segera pulang. Sebelum pulang, kami mampir di tempat penjualan sampah untuk menjual sampah hasil jerih payah kami. Tidak banyak tujuh sampai sepuluh ribu, tapi kami sangat bersyukur. Itu hasil kotor, karena kami harus setor kepada Bang Brewok, yang telah bermurah hati memberikan kami tempat tinggal meskipun terbuat dari kardus yang ditambal sana-sini.
Aku dan Ningrum adalah sahabat sejak kecil, kami dibesarkan dalam keadaan pas-pasan dan kami sudah kehilangan sosok seorang ayah. Oleh karena itu, ibu kami bekerja banting tulang untuk menghidupi kami. Sejak saat itulah kami mengerti akan kerasnya kehidupan. Kami sudah terbiasa bekerja, mulai dari loper koran, jualan kue keliling kampung milik ibu Ros,  jadi tukang cuci, hingga pemulung, berharap dari uang tersebut dapat ditabung untuk meraih mimpi. Kami bersekolah hingga tamat SMA. Ketika kami mengutarakan niat untuk melanjutkan ke universitas, tidak ada jawaban dari ibu kami, mereka hanya menampakkan wajah pucat kebiruan, dan kami jadikan itu sebagai jawaban. Apalah daya, inilah hidup yang harus kami tempuh, begitu pahit dan membuat kami sesak. Meskipun begitu, kami tetap semangat mengukir mimpi. Sudah menjadi aktivitas rutin kami, setelah shalat maghrib, aku dan Ningrum menjadi guru otodidak, mengajak anak-anak pemulung ke taman-taman ilmu, betapa indahnya belajar tentang membaca, berhitung, dan mengaji, karena memang tidak ada gedung, rumahku berubah menjadi sekolah bagi mereka. Kami mengajar tanpa kurikulum, kami hanya ingin mengamalkan ilmu semampu kami untuk mereka. Kami mengalami kondisi ini, lagi-lagi karena masalah klasik, biaya pendidikan yang melebihi biaya hidup. Diantara mereka ada juga yang sudah tidak memiliki orang tua, berawal dari itu semua kami tegerak hatinya untuk berbagi ilmu dengan mereka.
Malam ini sengaja aku tidak langsung pulang ke rumah, aku dan Ningrum mampir terlebih dahulu ke toko buku loak. Aku membeli buku untuk anak SD, SMP, SMA bahkan mahasiswa, lumayan, masing-masing dapat tiga buah. Setelah selesai, aku dan Ningrum pulang, saat menyusuri jalan pulang, samar-samar kami mendengar suara “Copet…?!!!” Kelompok itu semakin dekat, aku dan Ningrum tidak sempat menghindar dan akhirnya…BRAAKKH… !!!!!
* * *
Perlahan ku buka mata, ku tatap sekeliling ruangan, tak asing lagi, bahwa sekarang aku berada di dalam kamarku sendiri. Buku-buku tersusun rapi layaknya perpustakaan mini. Sudah lima belas jam aku tak sadarkan diri. Terseret motor sejauh dua meter dengan meninggalkan luka yang kini membuatku perih. Karena tidak mampu membayar biaya pengobatan, luka-luka ini cukup di lap menggunakan air hangat dan betadine ala kadarnya.
“Ai, kamu sudah sadar? Syukurlah…” suara Ningrum membuatku kaget. “Hari ini aku sengaja pulang cepat, buat jenguk kamu, oya aku bawakan sesuatu untuk kamu.” Ningrum membuka bungkusan kecil dari tas bambunya.
Wahapaan nihduh… Ningrum makasih banyak ya…ini kan molen kesukaanku.” Dengan rasa bahagia ku peluk sahabat terbaikku itu.
“O…ya, ada yang ingin bertemu sama kamu.” Aku hanya mengerutkan kening.
“Silahkan masuk,” pinta Ningrum. Seorang pemuda muncul dari balik pintu.
Sambil mendekat pemuda tersebut berkata, “Aku mau minta maaf sama kamu, gara-gara aku kamu tidak berangkat kerja dan gara-gara aku juga kamu jadi seperti ini, sekali lagi aku minta maaf, aku harap kamu mau memaafkan aku…aku Zain Albadr Razak, panggil saja Albadr,” Dia mengulurkan tangannya.
“Nesa Maisie, panggil saja Ai.” Jawabku polos.
“Malam ini aku akan jadi guru pengganti, selama kamu masih sakit, sepertinya anak didikmu sudah siap di luar sana.” Sambil menjinjing beberapa buku dia mengintip melalui lubang dinding kamarku.
“Apa?” Aku bingung. Ningrum hanya angkat bahu.
“Maaf ya…aku sudah cerita semuanya sama dia, habis dia nanya terus sih…” Ningrum pergi meninggalkan kami berdua, dia yang mendengar perkataan Ningrum tersipu malu, kemudian kami ke luar, ku tatap anak didikku satu per satu, lengkap dengan alat-alat tulis di tangannya.
“Kakak ini yang sudah ngasih kita semua ini, kita semua seneng banget, kak Ai baik-baik saja kan? Kata kak  Ningrum kak Albadr ini temen kakak dan akan menjadi guru kami nunggu sampai kak Ai sembuh,” cecer Cecep seolah tahu apa yang ada di otakku. Ningrum tersenyum simpul. “Ayo adik-adik duduk yang rapi, kita akan mulai belajar,” kata Ningrum lembut.
“Sekarang kita belajarnya dari sore sampai malam, kakak akan mengajari kalian apa yang kalian ingin tahu, kita akan belajar sambil bermain, setuju??” kata Albadr bijak.
“Setuujuuu…!!!” jawab anak-anak serempak. Aku yang dari tadi berdiri di ambang pintu menyaksikan mereka tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat, yang dengan begitu lembut menyelimuti jiwa yang selama ini beku.
“Ai, aku rasa dia adalah malaikat yang sengaja Allah kirim untuk kita semua, sebenarnya aku tidak kerja, dia datang menemuiku tadi pagi dan dialah yang punya ide tentang semua ini, dia juga membelikan buku ini untuk kita,” Ningrum memperlihatkan buku ‘Mega Try Out untuk Masuk Perguruan Tinggi Favorit’, kita masih punya kesempatan, dia berharap kita mau ikut tes SNMPTN, dia bersedia membantu kita, masih adakah cita-cita di otakmu untuk menjadi seorang ilmuan?? Untuk masalah biaya dia akan membantu mencarikan beasiswa karena dia adalah mahasiswa UI, bagaimana Ai?” Kutatap mata Ningrum yang berbinar-binar, sudah lama sekali tidak pernah ku tatap mata seperti itu, kami terharu dalam pelukan erat, dengan rasa bahagia yangtak terkira ku samber buku itu, kami berebut buku dan tertawa bersama.
Aku tidak akan pernah menyerah!!! Hidup adalah perjuangan dan perjuangan itu tidak akan pernah berhenti sebelum nafasmu terhenti, ku hela nafas, Allah mengizinkan ada takdir yang dapat diubah oleh hambaNya sendiri, karena Allah yakin kalau hambaNya mampu melakukannya, sekarang keputusan ada di tangan kita kawan, apakah kita mau berjuang untuk mengubahnya atau tidak. Jangan berhenti karena bertemu kasempitan, ingat!! Apabila kita menemukan masalah Allah akan mendatangkan kemudahan melalui dua jalan sekaligus, sungguh sempurna! Kini, mimpi itu terukir jelas di depan mataku, ku rentangkan tanganku, ku rasakan semilir angin senja menerpa tubuhku hingga ke relung jiwaku, seakan malaikat berbisik, “Nikmatilah dan syukurilah sayang…” Ku buka mata, ku tatap adik didikku sudah duduk rapi di depan mataku, mereka tersenyum padaku, siap untuk berekreasi. Jika di luar sana adalah dunia ilmu pengetahuan maka aku adalah jendela untuk mereka, akan ku buka selebar-lebarnya, akan ku tunjukkan betapa indahnya dunia di balik jendela, dunia rahasia para ilmuan memecahkan alam semesta, dunia para ilmuan menemukan kajaiban-keajaiban, bintang-bintang dalam samudra jagad raya telah berkonstilasi menghimpun kekuatan untuk segera menunjukkan siapa mereka sesungguhnya. Dengan berdiri semampunya tetap ku tuntun  mereka untuk mengerti arti ‘Dunia di Balik Jendela.’
Dari balik awan kulihat cahaya
Dari balik awan ku dengar jawaban
Dari balik awan ku kejar impianku
Dari balik awan kan ku genggam matahari 
Soundtrack lagu Danias mengalun perlahan, dari seberang ku tatap Albadr dan Ningrum, mereka tersenyum padaku, kristal-kristal embun senja siap mengabdi untuk masyarakat.
Mari Belajar.

Sekedar Puisi Untuk Mama

mama….
waktu itu ketika mama bilang, ngga ada yang sayang sama mama kecuali si adek, tahukah mama hati ini terluka. Maka,waktu itu mulut ini pun spontan berkata “kalo kaka….?” mama cuma geleng kepala dan bilang: “kaka gak sayang mama..” lalu mulut ini pun langsung merespon: “kok gitu..?”dan mama bilang..: “itu bisa dirasa dan kaka gak sayang…”
Setelah itu mama pergi dan aku hanya bisa tertunduk lalu menangis…
Kucoba meraba-raba perasaan ini, benarkah yang mama bilang bahwa aku gak sayAang mama? aku coba mengingat ingat lagi dan hati ini memberontak lalu ingin bilang: “bukan aku yang ngga sayang mama, tapi mama yang ngga sayang aku…”tapi sisi hatiku yang lain masih ragu, benarkah mama ngga sayang aku? masa’ ada ibu yang ngga sayang anaknya? tapi memori masa kecil itu begitu sering terlintas.

Kuingat beliau pertama kali memanggilku “sayang” ketika aku sekolah diluar kota, waktu itu umurku sudah 18 tahun. Seingatku, seumur hidupku, aku hanya dipeluk mama sekali, ketika mama mau berangkat haji. Waktu itu aku kelas 1 SMP, itupun hanya sebentar karena mama melepaskan pelukanku karena akan berangkat. aku menangis, bukan karena mama pergi haji, tapi karena mama melepaskan pelukanku
waktu kecil aku sering dipukul sayang ,dicubit karena aku bandel atau karena alasan mama yang waktu itu belum bisa kumengerti. waktu itu aku cuma bisa menangis, meringkuk di sudut rumah atau lari ke kasur dan menangis sejadi-jadinya. lalu nenek datang, dan bilang: “kenapa? mama marah ya…?” aku ngga jawab, cuma tangisku makin keras. “sudah..itu tanda-nya mama sayang sama kaka…kalo orang tua..ngga pernah marah sama anaknya..
berarti orangtua itu ngga sayang sama anaknya….mama ngga mau kaka buat salah, makanya mama marah…supaya kaka ngga salah langkah…itu tanda-nya mama sayang kaka…” nenek mencoba menenangkan hatiku, jadilah sejak itu…aku memaknai semua marah mama, cubitan mama, pukulan mama, sebagai kasih sayangnya.
pernah suatu ketika, aku SMP kelas III, aku sudah ngga tahan lagi…lalu kuputuskan sejak itu..aku tidak akan menangis lagi didepan mama kalau dipukul sayang… atau dicubit..
aku cuek, satu-satunya alasan, aku masih menghormatinya, karena aku masih takut sama Alloh…aku jarang bicara dengan mama, takut berujung kelahi….
dulu aku sering berkata dalam hati, abah itu separuh hidupku dan separuh yang lain adalah nenekku. karena bagiku hanya 2 orang itulah yang sayang padaku. sempit sekali bukan? sedang mama, aku masih bisa hidup walau tanpanya. aku jahat banget kan?tapi sejak sekolah diluar kota,,,aku mulai kangen mama.
aku kangen suaranya, aku kangen harum tubuhnya. aku juga kangen surprise bekal sekolah darinya, bahkan aku kangen omelannya, kangen cubitannya, kangen ekspresi beliau ketika marah atau bahagia…kangen sekali. padahal dulu aku ngga pernah sekangen ini. aku selalu ingin jauh darinya…
tapi sejak sekolah dirantau, semua berubah pelan-pelan, aku mulai membutuhkannya, tapi sayangnya beliau sangat jarang menelpon aku, walau sekedar bertukar kabar. kalau tidak kuminta…mungkin beliau tak akan menelponku….
lalu memori lain melintas, sebuah memori yang dulu tak kuperhatikan. saat mama mengipasi tidurku, menghalau nyamuk-nyamuk haus darah dan panas yang menyengat, ketika kami bermalam di makasar, sedang beliau tak bisa tidur. karena khawatir nyamuk2 itu menghisap darah anaknya dan takut panas menganggu lelap tidurku.
saat mama mengumpulkan uang sisa belanja sayur untuk menambah uang saku-ku, karena ingin aku bisa jajan seperti anak yang lain dan tak mau membebani abah. ketika SD,setiap ulangan umum mama selalu membelikanku alat tulis yang baru dan menemaniku belajar. mama yang mendaftarkan aku ke salah satu sekolah terbaik di kotaku. saat mama tiba-tiba muncul dari jendela kelas disaat jam pelajaran sekolah, sekedar memberikan surprise bekal makan siang untukku waktu aku masih SD. ketika aku SD sampai SMA, setiap pagi tanggal 6 september, selalu ada tumpukkan kado-kado untukku, mama bilang…kado2 itu dari abah dan adek-adek, tapi aku tau semuanya mama yang membelikan khusus untukku.
saat kudengar tanteku bilang bahwa beberapa minggu mama sangat pemurung dan tak karuan makan karena harus melepasku untuk pertama kalinya merantau ke pulau sebrang.
Ketika aku pulang, mama selalu jadi orang pertama yang menyambutku dipintu rumah dan langsung menyuruhku makan dengan masakan favoritku. begitupun ketika aku harus kembali kepulau sebrang, mama pula yang mengantarkan aku bersama abah. tak lupa beliau selalu menyiapkan bekalku diperjalanan. ketika aku liburan kuliah dan pulang kampong, mama selalu menanyakan padaku: “hari ini kaka mau makan apa?nanti mama masakkan..”
belum termasuk saat beliau mengandungku dan meregang nyawa karena melahirkan aku….
ahhh…rasanya episode buruk yang pernah kujalani bersama beliau bukan apa-apa.
hari ini, aku sangat rindu padanya. rindu yang teramat sangat….
kenapa aku begitu bodoh, otakku terlalu sering mengingat episode yang buruk
dan melupakan episode yang indah yang jumlahnya tentu lebih banyak dari yang buruk. ahhhhhh….mama…tahukah mama….
bagi kaka, mama adalah bidadari paling cantik yang Alloh kasih buat kaka, Hingga kaka ingin memandang cantiknya wajah mama, memperhatikan setiap kerutan-kerutannya, walau kaka tau…hati mama jauh lebih cantik.
Mama, tahukan mama, kita berdua bicara tidak dengan mulut kita, tapi kita bicara dengan tatapan mata dan gerakan cinta. kita bicara dengan sayang yang tak terucapkan, tapi bisa dikenali hati.
Mama, saat ini kaka benar-benar sayang sama mama, sayang yang teramat sangat, hingga rasa itu seperti ingin meledak, ingin berebut keluar, tapi belum bisa terucapkan.
Mama, tahukah mama, kini ada bilik hati yang khusus buat mama. warnanya hijau daun dan merah hati, seperti yang mama suka,,,yang siap mama tempati. kaka ingin mama mengisinya lagi. walau kaka tau mama selalu mengisinya sejak dulu, tanpa kaka sadari
Mama…maapin kaka….untuk rasa yang bernama cinta, untuk hati yang bernama sayang
yang baru saja benar-benar kaka sadari….
kaka sayang sama mama…..sayang yang teramat sayang…
hingga rasa itu ingin meledak…ingin berebut keluar…dan ingin segera terucapkan…..
sebelum terlambat.. i love u very much mama……..
………………………………………………………………………
(Diambil dari buku mentoring FAKULTAS PSIKOLOGI Universitas Muhammadiyah Malang Tahun 2007)

Film Indonesia, nasibmu kini…

Staf Komisi Isu Nasional PUSKOMNAS FSLDK Indonesia
Indonesia sudah berumur 64 tahun, tahukah kita semua jika film Indonesia lahir sebelum bangsa ini merdeka. Tetapi Hari Film Nasional diperingati oleh insan perfilman Indonesia setiap tanggal 30 Maret. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Film Nasional karena pada 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar film “Darah & Do’a” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Alasan disakralkannya film “Darah & Do’a” karena film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan indonesia. Selain itu inilah film pertama yang benar-benar disutradarai oleh orang Indonesia asli dan juga dilahirkan dari perusahaan film milik orang Indonesia asli. Perusahaan ini bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) Usmar Ismail juga pendirinya.
Film Nasional telah disepakati lahir pada tanggal 30 Maret 1950, namun sebenarnya sejarah pembuatan film cerita di Indonesia yang dulunya bernama Hindia Belanda, sudah dimulai pada tahun 1926. Bahkan sampai tahun 1942 industri film lokal sudah cukup berkembang, meskipun masih kalah bersaing dengan film-film asing terutama dari Amerika. Pada masa itu para pemilik perusahaan-perusahan film lokal adalah orang-orang Cina & Belanda. Judul film cerita yang pertama kali dibuat di negeri ini adalah: “Loetoeng Kasaroeng” yang masih berupa film bisu. Pemain-pemainya adalah orang-orang pribumi, pembuatnya adalah dua orang Belanda: G. Krugers & L. Heuveldorf. Ketika film ini dibuat penduduk di kota-kota besar seperti Batavia, Bandung, Surabaya dll sudah tidak asing lagi dengan pemutaran film yang dulu dikenal dengan sebutan “Gambar Idoep”. Mereka sudah biasa melihat film-film cerita yang berasal dari Amerika, Cina dan Belanda. Penduduk Hindia Belanda khususnya warga Batavia untuk pertama kalinya bisa menyaksikan film di penghujung tahun 1900.
Sampai saat ini banyak sekali film-film yang dilahirkan oleh pegiat seni negeri ini, bermacam-macam obsesi,selain itu Semuanya diuntungkan, mulai dari crew, bioskop, para aktor dan aktris, sponsor, tapi bagaimana dengan para penontonya???? Mendapatkan keuntungankah ? hanya anda yang suka menonton film indoesia yang tau jwabannya.
Jika dahulu penetapan hari film ditetapkan ketika film yang dibuat pada masa itu bergenre Indonesia, lalu bagaimana kini perfilman Indonesia yang mengedepankan kehidupan hedonis, hantu, pocong, ?? jika begini yang diuntungkan hanya para pegiat film saja, sebab nilai-nilai positif dari film- film yang saat ini beredar sangat sedikit sekali nilai-nilai pendidikan. Kita rindu akan karya- karya anak bangsa seperti Laskar Pelangi, Denias, Garuda Di Dadaku, Emak Naek Haji, Alangkah Lucunya Negeri Ini, Sang Pencerah dll. Ini hanya beberapa persen dari jumlah film yang disuguhkan kepada rakyat indonesia.
Mestinya komisi penyiaran Indonesia, lembaga sensor lebih selektif dalam pemeriksaan agar moral anak-anak negeri ini kembali kepada sejarah orang timur, karena semakin bebasnya film Indonesia tak sedikit anak yang melawan orang tua, bolos sekolah, married by axcident, ayah menghamili anaknya, anak smp berani berhubungan di sekolah. Hal ini disebabkan bisa jadi karena suguhan film-film yang tidak senonoh, jangan berdalih bahwa bioskop hanya untuk 18 tahun ke atas lalu dapat disuguhkan dengan film- film yang tidak bermoral. Apakah hanya keutungan materi semata yang di cari oleh pegiat film indonesia???

Peringatan hari film yang ke 51 harapannya film indonesia bisa bangkit dari keterpurukan moral, keutungan tidak hanya milik penonton karena pasti akan banyak yang ingn melihat film-film berkualitas. Dan kepada masyarakat indonesia mesti memilih mana yang punya keuntungan untk anda lihat, jangan buang uang anda hanya untuk lihat film mitos, dan hedonis. Bagaimna ingin go internasional jika perfilman indonesia masih begini- begini saja.

Mengembalikan LDK Pada Khitahnya

By isupuskomnas

Mengembalikan  LDK Pada Khitahnya
(Refleksi Fenomena Gerakan Dakwah Kampus Dari Virus Pragmatisme)
 Adi Inzar Kusuma
(Ketua Puskomnas 2010-2011)

Muqaddimah
Dakwah kampus semakin menjadi suatu fenomena yang menarik untuk diperhatikan. Dengan segala hambatan dan  rintangan tetap akrab dengan nuansa pergerakan mahasiswa muslim. Dauroh, mentoring, kajian, seminar, sampai pada aksi-aksi keummatan. Kampus tidak lagi sekedar tempat tumbuhnya lokus intelektual semata. Ia pun semakin kental menjadi pusat pertumbuhan semangat dan aktivitas keislaman yang signifikan. Memasuki decade ketiga ini, dakwah kampus tidak cukup dengan stagnansi menjalani hari-hari dakwahnya tanpa sebuah inovasi.
Zaman cepat berubah “Today we have to run faster to stay in the same place”. Begitulah kira-kira ungkapan yang pernah dilontarkan oleh Kotler untuk melukiskan betapa pentingnya menangkap dinamika dan mengantisipasinya dengan langkah yang tepat agar dapat hidup di era turbelensi ini. Dalam kesempatan lain David Held (Global Transformation, 2000) menggambarkan bahwa globalisasi memiliki velocity (kecepatan), intencity (kedalaman), danextencity (kekuasaan/daya jangkau) yang lebih dasyat dari sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan sekaligus ancaman yang harus dihadapi oleh dakwah kampus agar berbenah diri menghadapinya.
Insan akademis yang kompetitif
Dakwah kampus tidak boleh melupakan tujuan perguruan tinggi secara umum, bahkan ia merupakan representasi nyata dari tujuan perguruan tinggi. Tri Dharma Perguruan Tinggi harus mampu diterjemahkan oleh Aktivis Dakwah Kampus (ADK) dalam tafsiran yang tepat. Mengakttualkannya dalam bentuk program-program yang dinamis dan kreatif. Seperti juga visi pendidikan nasional “menciptakan insan akademis yang cerdas dan kompetitif”. Maka ADK harus tampil dengan peran resminya sebagai mahasiswa. LDK adalah Lembaga Dakwah Kampus yang telah memiliki sejarah tersendiri keberadaanya dalam pergerakan mahasiswa Islam Indonesia. Ratusan LDK telah tersebar diseluruh Indonesia seiring dengan pertumbuhan dunia Perguruan Tinggi sendiri. Selama lebih dari dua puluh tahun LDK berkembang dari gerakan elit, lalu membentuk komunitas, dan sekarang telah menjadi kenyataan sosiologis yang lebih luas lagi. Masyarakat kampus pada umumnya mulai terwarnai. Trend busana muslimah, nasyid, buku-buku pergerakan Islam, dauroh-dauroh, dan mentoring telah mengubah citra kampus yang sekuler, feodal, dan hedonistis menjadi “Pesantrean Modern” dimana kampus menjadi terasa Islami, egaliter, sederhana dan religious.
Pada awal tahun 90-an LDK telah merambah keperan yang lebih strategisn dengan mengambil posisi-posisi di lembaga-lembaga kemahasiswaan seperti BEM/Senat Mahasiswa. Pada FSLDK yang ke X, tahun 1998 di Malang para pemimpin LDK bahkan mengambil prakarsa untuk mendirikan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Dengan demikian keberadaan LDK telah berkembang menjadi realitas sosial, dan menjadi realitas politik ditingkat nasional. Menilik kiprahnya yang signifikan dalam menentukan warna pergerakan mahasiswa di Indonesia, maka perannya ditingkat regional maupun internasional pun cepat berkembang. Apabila kemampuan untuk terus berkembang terpelihara dengan baik maka di masa yang akan datang alumni-alumni LDK yang semakin banyak akan menjadi penentu penting pembentukan masyarakat Islam Indonesia, sekaligus meneguhkan eksistensi politik umat.
LDK adalah modal dasar perjuangan, ia merupakan basis moral dan juga basis sosial dari pergerakan mahasiswa muslim. Oleh karena itu, LDK tidak boleh meninggalkan fungsi utama untuk membentuk kualitas kader handal sekaligus terus melahirkan produk di berbagai aspek kehidupan dalam rangka membentuk masyarakat Islami.
Ada beberapa hal yang perlu diperteguh sebagai basik position LDK. Pertama, LDK sebagai lembaga intra kampus yang merupakan bagian tidak terpisahkan baik dari struktural maupun cultural dari civitas akademika disuatu perguruan tinggi. Keberadaannya berbanding lurus dengan keberadaan perguruan tinggi. LDK akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan suatu perguruan tinggi. Kedua, inti keberadaan LDK adalah pembinaan dakwah di kampus. Oleh karena itu tanggung jawab untuk membina kader, dan fungsi laboratorium dakwah yang senantiasa memproduk berbagai trend Islamisasi menjadi kewajiban utamanya. LDK diaharapkan mampu menawarkan konsep-konsep Islami didunia akademik dan profesi. Suatu yang menjadi kebutuhan civitas akademika dikampus.
Ketiga, LDK adalah penjaga moral, perekat yang dinamis dan markas dakwah bagi seluruh elemen pergerakan mahasiswa. Artinya LDK harus mampu menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga kemahasiswaan  lain yang ada dikampus dalam  mensukseskan agenda-agenda dakwahnya. Keempat, LDK sebagai  lembaga intra kampus  adalah  lembaga yang  tidak langsung memasuki wilayah politik. Ia memproduk pemikiran-pemikiran politik, sikap moral dan akan menyalurkannya struktur terkait serta organisasi mahasiswa lainnya. Hal ini tidak berarti bahwa LDK akan menjadi sebuah gerakan parsial, namun semata-mata  merupakan  titik tekan, core competence, atau spesialisasi.Kelima, LDK adalah miniatur masyarakat Islam di Indonesia yang menampung berbagai problematika umat, kompleksitas, dan pluralitas didalamnya. LDK hendaknya dapat menjadi teladan dan pelopor pada setiap perubahan kearah Islami.
Dakwah kampus harus menjawab tawazunitas yang belum tuntas. Amal dakwah yang seimbang antara dakwiyah, fanniyah, dan siyasiyah menjadi titik tekan. Ketiga pendekatan amal dakwah kampus ini bukan sesuatu yang terkotak atau satu amal lebih dipentingkan dari amal yang lainnya. Ketiganya merupakan kesatuan amal yang terintegrasi menjadi kekhasan dakwah kampus. Ketertinggalan salah satu poin amal dakwah didalamnya merupakan sebuah kepincangan yang harus diperbaiki. Misalnya, selama ini amal dakwah fanniyah (keilmuan) seolah-olah di kesampingkan, dibandingkan dengan amal dakwiyah terutama amal siyasiyah.
Perubahan-perubahan structural maupun kultural akibat proses transisi sosial politik Indonesia. Karenannya diperlukan perubahan cara pandang terhadap diri dan lingkungan dalam menyikapinya. Patut dijadikan asumsi dalam menentukan format baru dakwah kampus kedepan adalah dinamika yang berkembang dikalangan ADK sendiri yaitu : Pertama, adanya kecenderungan untuk lulus cepat, hal ini selain disebabkan karena semakin singkatnya masa putus studi juga diakibatkan semakin mahalnya biaya pendidikan. Implikasinya adalah waktu yang dibutuhkan untuk berorganisasi tidak lama. Kedua, miskinnya tradisi intelektual dikalangan ADK dan mahasiswa secara umum. Hal itu tercermin dari sedikitnya dinamika intelektual yang berkembang dalam pers kampus. Kalaupun terbit semacam bulletin, namun itu tidak lebih dari saduran buku-buku dan tidak mencerminkan pergulatan intelektual dan ideology terhadap realitas sosial politik keummatan yang berkembang.
Mengembalikan LDK pada Khitahnya
Selain enam hal tersebut diatas yang seyogyanya diperteguhkan, ada beberapa agenda mendesak pokok-pokok pemikiran yang perlu dikedepankan pembahasannya di internal FSLDK dan LDK-LDK, hal ini didasarkan pada fenomena-fenomena kekinian yang memperlihatkan “melemahnya” peran dan gerak sy’iar dakwah kampus dibeberapa daerah-daerah Indonesia.
Pertama, mengeksplorasi permasalahan yang berkembang dan menjadi kendala bagi kemajuan LDK diwilayah, untuk menentukan skala prioritas pemenuhan kebutuhan bagi masing-masing LDK yang ada. Langkah selanjutnya yaitu penugasan kepada perangkat FSLDK untuk mempersiapkan strategi pendampingan terhadap LDK yang masih berada dalam tahap persiapan maupun permulaan. Hal ini sangat diperlukan dalam rangka penyamaan langkah perkembangan Islam yang dimulai dari gerakan intelektual kampus.Kedua, menyambut baik diterapkannya syari’at Islam dibeberapa daerah dan semakin menguatnya arus Islamisasi diberbagai lini secara parsial (melalui perda-perda, sekolah-sekolah Islam, dunia perbankan, ekonomi dan sebagainya), diperlukan sebuah perencanaan strategis yang terukur menuju model kampus yang Islami. Sehingga perwujudan lainnya akademis dan profesional muslim sejati bisa dilahirkan melaui kampus. Kajian-kajian bidang akademik dan riset keilmuaan serta penerapannya secara bertahap hendaknya mulai dilakukan, karena masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan pemahaman, tetapi yang lebih penting adalah implementasi nyata dari apa yang selalu kita suarakan.
Ketiga, memiliki kehidupan kampus yang kian dijerat oleh pragmentisme materi, hedonisme, dan pergaulan bebas, diperlukan langkah-langkah serius untuk menanggulanginya. Apabila tidak, akan terjadi fenomena melemahnya mental dan moral mahasiswa. Terserapnya mahasiswa kedalam mental dan moral budaya Barat dan kapitalisme global. Upaya- upaya sistematis untuk menghalau fenomena ini merupakan penguatan identitas dan kultur para aktivis dakwah kampus agar tidak ikut-ikutan tercemar seperti yang tergambar dalam melemahnya pergaulan antar ikhwan dan akhowat, millitansi, sifat kritis dan berbagai budaya yang bersifat laghwi (perkataan dan perbuatan yang sia-sia).
Keempat, semakin marak dan menjalannya kegiatan kristenisasi didalam kampus dan dimasyarakat umum dengan berbagai kedok dan cara. Perlu adanya penanganan yang intensif dan terfokus dari seluruh element umat Islam., lembaga keislaman, dan ormas-ormas Islam sehingga dapat memberikan pemahaman dan penanganan secara nyata terhadap hal tersebut. Butuh kerjasama dan jalinan komunikasi yang efektif dan efesien disetiap lini sehingga data dan fakta yang terjadi dapat lebih cepat diantisipasi dan ditangani.
Kelima, LDK perlu memperkuat syuro dan amal jama’i dilingkungan para aktifis dan masyarakat umum. LDK harus mengutamakan persaudaraan dan bergerak sinergis dengan berbagai komponen pergerakan mahasiswa, khususnya yang secara tradisional dilahirkan dan dibesarkan oleh LDK sendiri. Dalam sejarah panjang LDK yang sudah mengadakan ‘hajatan’ hingga FSLDKN ke XV yang diadakan di Ambon sebagai tuan rumahnya, ada metamorfosa dalam gagasan, organisasi, dan dinamika gerakan. Sepuluh tahun lebih FSLDK berjuang mencoba menata diri dan menyesuaikan aktivitas gerakannya dengan situasi zamannya. Dalam proses tersebut ada beberapa catatan yang perlu ditulis sebagai bahan kontemplasi, agar tidak gamang dalam memilih jalan dan tidak ragu memperbaiki bangsa ini serta sebagai awal untuk kembali kepada khitah perjuangan dakwah kampus.
Pertama, visi gerakan dan pragmatisme. Membentuk Kader Militan adalah tujuan dari proses kaderisasi yang dilakukan oleh LDK, atau Muslim Negarawan yang coba digaungkan oleh KAMMI. Kader Militan ataupun Muslim Negarawan hendaknya harus mulai tercermin dari kader-kader LDK dan KAMMI itu sendiri, terutama dijajaran para pemimpinnya. Bagaimana mungkin ide dan gagasan ini dapat tersosialisasi dan membumi dimasyarakat kalau penggagasnya justru jauh dari sosok seorang pribadi muslim. Sehingga wajarlah, ketika kalimat-kalimat ikhuwah islmiyah, amal jama’i, utamakan kuliah dahulukan dakwah hanya menjadi slogan belaka tanpa ada ruh kekuatan yang mampu mencerminkan itu semua. Ditengah-tengah menjalarnya pragmatisme gerakan mahasiswa, seharusnya kader atau pemimpin dapat menjadi teladan dalam aspek moral gerakan dengan menjaga idealisme khitaah gerak juang dan orientasi gerakan. Jangan sampai LDK justru larut dalam budaya pragmatisme gerakan dengan menghalalkan segala cara. LDK harus memiliki dhawabit (kerangka) moral dan etika dalam gerak juangnya. Ini diperlukan agar ijtihad setiap pemimpin LDK dalam menjalankan roda organisasi dan komunikasi tidak sampai menimbulkan ekses negative pribadi dan organisasi.
Kedua, komunikasi dan eksekusi gerakan. LDK harus menjadi organisasi yang terbuka (inklusif) bukan tertutup (eksklusif) serta dapat berkomunikasi dengan siapa pun dan ideology apa pun. Namun, dalam membangun komunikasi ini harus diawali dengan posisi yang jelas dan konsep yang kuat. Sehingga diharapkan gagasan-gagasan tersebut bisa menjadi gagasan bersama dalam konstribusi perbaikan bangsa dan negara. Hendaknya, bagi LDK komunikasi yang terbangun dengan pihak lain bukan sebagai alat untuk mempercepat mobilisasi vertical para pemimpinnya, tetapi lebih pada menjalankan fungsi da’i (penyeru pada kebenaran). Bargaining position LDK adalah visi gerakan dan kebenaran. Jangan justru agenda-agenda orang lain masuk dan menjadi agenda-agenda kita dan jangan sampai LDK menjadi kendaraan pihak lain dalam mewujudkan ambisi-ambisi pribadi, jika hal ini sudah terjadi maka LDK tidak lebih dari sebuah event organizer raksasa yang bekerja tergantung order.
Ketiga, LDK belakangan ini mewacanakan suksesi kepemimpinan dan regenerasi serta penokohan kadernya. LDK adalah sebuah gerakan yang tingkat pertumbuhannya sangat pesat, baik dari jumlah aspek kader maupun structural. LDK akhir tahun 2008 lalu dengan lingkup Nasional mengadakan pertemuan di Universitas Indonesia merumuskan konsep untuk membangun jaringan diluar negeri dengan konsep ‘FSLDK go Internasional’. LDK adalah organisasi besar yang memiliki manhaj kaderisasi yang cukup jelas dan lengkap, namun masih perlu perbaikan disisi implementasi. Perlu evaluasi kritis dalam proses regenerasi kepemimpinan di tubuh FSLDK. Karena regenerasi kepemimpinan bukan hanya faktor kederisasi, tetapi juga menyangkut bagaimana alur pemberdayaan kader di organisasi. Harus ada keseimbangan anatra kualitas kader dan mekanisme pemnberdayaanya. Jangan sampai ada kader yang punya ‘pangkat’ banyak, tetapi disisi lain ada kader yang ‘nganggur’.
Keempat, proses tourits (pewarisan) juga menjadi hal yang penting dalam regenerasi. Kader-kader yang potensial harus dipastikan mendapat pewarisan fikroh dan manhaj yang benar dan lurus dari pendahulunya, sehingga bangunan peradaban yang akan dibangun FSLDK bisa terus berlanjut, tidak selalu memulai dari nol. Krisis tourist inilah yang cukup memprihatinkan. Oleh sebab itu, wadah alumni LDK sepertinya harus bisa terealisasi pada forum-forum nasional untuk dibicarakan konsep dan teknisnya. Kosistensi agenda dan momentum. Salah satu kekuatan gerakan mahasiswa adalah kosistensi isu gerakan yang tergantung dengan ideologi dan visi gerakan. FSLDK seharusnya memiliki isu yang konsisten sebagai buah dari ideologi dan visi gerakan.
Khatimah
Mengakhiri tulisan ini, paling tidak sebagai solusi awal ada tiga pokok pemikiran tentang format baru dakwah kampus menurut saya yang perlu dikembangkan, pemikiran ini lahir dari perspektif peran kampus terkait dengan pronyek rekonstruksi negara madani dengan mempertimbangkan asumsi pergeseran lingkungan strategis akibat transisi sosial serta beberapa realita dikalangan ADK. Akselerasi kelulusan aktivis dakwah kampus yang kompetitif. Proyek rekonstruksi negara madani adalah proyek yang kompleks, karena waktu yang lama serta kebutuhan resources yang tidak sedikit. Dibutuhkan sebuah lumbung SDM yang mampu membentuk sebuah lapisan sosial yang terdiri dari da’iyah dengan kompetensi tinggi serta memiliki militansi untuk melakukan transformasi nilai-nilai rabbaniyah, baik secara struktural maupun cultural.
Lapisan sosial itu memiliki dua fungsi yaitu : Pertama,, adalah sebagai basis yang mapan bagi proses mobilitas vertikal para ADK untuk masuk  kedalam pusat-pusat pengambilan keputusan strategis, sebab pada kenyataannya tidaklah mungkin melakukan ishlalul hukumah seorang diri. Tidak mungkin seorang ADL menjadi tokoh publik, dan melakukan transformasi nilai-nilai rabbaniyah seorang diri. Dia membutuhkan dukungan dari berbagai kalangan dengan tingkat kompetensi yang tinggi. Kedua, adalah sebagai basis bagi lahirnya kandidat-kandidat calon pemimpin ummat yang maju dalam mimbar pemimpin mulai dari tingkat daerah hingga nasional, mulai dari suksesi kepemimpinan formal maupun nonformal. Jangan sampai ummat ini selalu ditimpa krisis calon pemimpin. Lapisan sosial itu sebagai kelas menengah muslim. Tanpa eksistensi lapisan sosial ini yang berkelanjutan, sulit membayangkan nasib dan proyek rekonstruksi negara madani. Dalam konteks inilah kita menempatkan dakwah kampus, dimana ia harus segera melakukan akselerasi kelulusan aktivisnya. Aktivis dengan seluruh kelengkapan fikrah, aqidah, suluk dan manhaj.
Memiliki kompetensi dan bermental petarung, sebab posisi-posisi strategis di masyarakat tidak ada yang gratis. Untuk setiap kelompok sosial dari kelas menengah, harus ada pertumbuhan yang signifikan setiap tahunnya. Artinya, dakwah kampus harus memberikan iklim yang kondusif bagi lahirnya para calon pedagang, intelektual, birokrasi dan professional. Jangan sampai ada aktivis dakwah kampus, yang setelah lulus luntang-lantung karena tidak mampu bersaing dilapangan kehidupan. Ketiga, dakwah kampus harus memiliki jaringan keorganisasian pasca kampus. Ada tiga jenis organisasi dalam suatu negara, tempat dimana sektor-sektor kehidupan negara dikelola. Yaitu organisasi publik (birokrasi), organisasi private (perusahaan), dan organisasi nirlaba (Ormas, LSM atau Asosiasi Profesi). Kelak para ADK akan terserap dan ditantang untuk berkiprah di ketiga sektor tersebut. Sebagai kader yang mengemban misi dakwah, ADK dituntut utnuk mampu berkiprah dan mengarahkan ketiga organisasi itu merekonstruksi Indonesia menjadi negara Madani. Artinya, mereka harus memiliki pengaruh dan magnet sehingga seluruh sektor kehidupan negara dapat berjalan kearah yang lebih baik dengan mengabsorbsikan nilai-nilai ketuhanan. Untuk dapat mencapai itu semua tentu saja bukan perihal mudah, butuh waktu untuk membuktikan integritas, kredibilitas, dan kompetensi ADK sebagai orang layak menempati dan bersaing dikesemua sektor tersebut.
Keempat, dakwah kampus harus mampu menumbuhkan semangat kewirausahaan dan penguasaan teknologi. Kemandirian ekonomi adalah salah satu ‘mata kuliah’ yang harus dilalui oleh Rasulullah saw pada masa-masa persiapan hingga menerima amanah Risalah Kenabian. Beliau mulai mengenal aktivitas kewirausahaan semenjak dini, yaitu ketika berusia 12 tahun, saat ia mengikuti kafilah dagang yang dipimpin Abu Thalib ke negeri Syam.
Menurut Al Buthy, ada dau pelajaran yang tersurat didalam kisah diatas.Pertama, menjag a integritas dan kredibilitas gerakan, “dakwahnya tidak akan dihargai orang manakala mereka menjadikan dakwah sebagai sumber rezekinya”. Tentunya kita menginginkan agar seruan dakwah ini selalu dihormati, disegani, dan didengar oleh ummat, sehingga dapat mengarahkan proses transformasi sosial kearah nilai-nilai ketuhanan. Namun, ketika ummat tidak lagi menghargainya, maka niscaya ia gagal dalam mengarahkan ummat.Kedua, menjaga independensi gerakan. “agar kita tidak nerhutang budi kepada seorang pun, yang dapat menghalangi dari menyatakan kebenaran dengan argumentasi adanya investor budi”. Pengguliran perubahan menuju negara madani, tidaklah mudah dimana pasti ada kekuatan status-quo yang tidak menghendaki perubahan. Mereka ingin agar Indonesia tetap berkubang dalam nilai-nilai jahiliyah.
Dalam era kompetensi ini, terjadilah sinergi yang beragam. Dibawah pengaruh politik setiap negara ia dibentuk. Politik negara yang dapat membangun sinergi positif antara ekonomi dan teknologi akan membuat negara-negara tersebut akan stabil dalam berbagai aspek. Namun, negara-negara yang gagal membangun sinergi antara kedua sektor tersebut dalam balutan kebijakan politiknya, akan menimbulkan proses kontradiktif yang membahayakan stabiliotas nasional. Ancaman disintegrasi bangsa mudah tampil dalam kehidupan negara tersebut. Meskipun kelak tidak semua ADK menjadi wirausahawan, namun cita-cita dan nilai-nilai seorang wirausahawan harus tetap terbawa selama hidupnya. Semoga investasi kebaikan diforum mulia ini dapat terimplementasikan dalam menjawab tantangan zaman yang ada, dan tentunya bisa memberikan solusi atas begitu banyaknya permasalahan-permasalahan Bangsa.
Wallahu A’lam Bishawwab.

Jalan Pemuda

JALAN PEMUDA


”Alhamdulillah…, setelah lelah kucari dan kutelusuri, akhirnya ku-menemukanmu. Ternyata benar dugaanku, di sinilah tempat yang selama ini kucari-cari. Setelah menempuh jalan yang begitu panjang, menyeberangi lautan, melintasi pulau, hingga melewati segala hal yang menghalangi perjalananku, akhirnya aku bisa juga tiba di sini. Tempat yang begitu damai, daerah indah nan permai, wilayah yang terhampar luas dan masih asing bagiku namun aku merasa telah mengenalinya.”
”Mari Mas, saya bawakan barang-barangnya! Ayo Mas naik ojek saya saja!” terdengar suara-suara seperti itu dari arah depan ketika aku turun dari bus dan membuyarkan perhatianku. Lalu tiba-tiba, aku merasakan ada sesuatu yang aneh di belakangku. Aku merasa ada yang mencoba mengikutiku setelah turun dari bus tadi. Tak lama kemudian . . . .
”Yazid, cepat ke sini!” Terdengar suara panggilan dari belakang dan sedikit mengejutkanku.
”Di sini, di sebelah Timur kamu!”
”Oh ya, saya akan ke sana Paman.” sahutku kepada Pamanku yang ternyata sudah menunggu kedatanganku sejak tadi di terminal.
”Bagaimana perjalanannya Zid, capek ga?”
”Alhamdulillah cukup menyenangkan meskipun cukup lelah juga di dalam bus dan kapal seharian.”
*          *          *
Namaku Yazid, aku datang dari sebuah kota di sebuah pulau yang paling banyak populasi penduduknya. Konon katanya, kotaku merupakan kota metropolitan terbesar di negara ini, yang sedang berkembang menuju kota megapolitan. Wilayah yang padat dan penuh dengan tipu daya dunia, namun mempesonakan bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Hari ini, aku mendatangi suatu tempat yang sangat jauh dari keluargaku. Rumah, orang tua, dan ketiga saudaraku kutinggalkan demi memenuhi hasratku. Mencari apa arti keberadaan diriku yang tiada sempurna di hadapanNYA. Bekalku hanyalah sebuah tekad, yang tak akan habis walau waktu terus berlalu.
Di hari yang hampir selesai, diriku telah tiba di suatu tempat yang akan kuhuni untuk sementara waktu. Mengingatkanku akan hidupku yang hanya sementara di dunia yang fana ini dan pasti akan kutinggalkan bila telah tiba saatnya. Tempat yang akan kudiami ini adalah wilayah yang baru bagiku, daerah yang masih tampak asing untukku. Namun, aku bisa merasakan bahwa daerah ini begitu tenang, aman, dan nyaman. Diriku merasakan sesuatu yang tak bisa kumengerti, bagaikan suatu yang semu yang selama ini kucari.
*          *          *
”Ya… lumayan capek, tapi bisa terhibur juga karena bisa lihat pemandangan laut waktu di kapal tadi, jadinya ga begitu terasa perjalanannya. O iya, si Fadli mana, Bulik?” aku berkata kepada bibiku, Zainab.
”Sedang main sama temannya tadi, Zid. ga tau ke mana dia sekarang.” Jawabnya.
”Di mana rumahnya Bulik Fatimah?” tanyaku sambil membawa masuk barang-barang bawaanku ke dalam rumah bibi Zainab.
”Itu yang di depan, di pinggir jalan pas sebelah Selatan anak sungai.” sahut bibiku.
”O.. yang itu ya…, apa Bulik Fatimah sudah tahu kalau saya sudah sampai di sini?”
”Ya sudah pasti, tadi ’kan saya telpon kamu pakai telponnya dia. Sebenarnya kamu sudah ditunggu kedatangannya dari kemarin, tapi kamu baru datangnya sekarang. Bahkan, kamu sudah disiapkan kamar untuk istirahat dan tinggal di sana.”
”Saya memang berniat jauh-jauh hari ingin cepat ke sini. Tapi, saya tidak ingin terburu-buru dan merepotkan Bulik juga. Jadi, lebih baik saya berangkat ke sini menjelang ujian saja, lagipula saya sempat mampir di Surabaya dulu sebelum menuju ke sini.”
”Ada apa di Surabaya Zid?”
”Ada Mas Iman yang sedang tugas beberapa bulan di sana.”
”Begitu ya… berapa lama kamu di sana?”
”Hanya sehari semalam, sekalian beli oleh-oleh untuk Bulik dan keluarga BulikFatimah juga. Ini buat Fadli juga ada, mas Iman yang belikan kemarin.”
”Wah, kamu ngerepotin diri aja, Zid.”
Ga apa-apa, alhamdulillah mas Iman ada rezeki lebih.”
*          *          *
Setelah sekian tahun aku tinggal di sini, belum juga kumengerti apa yang harus kucari di sini. Belum ada yang bisa kuberikan bagi perjalanan hidupku. Hari-hariku masih terasa hampa, yang ada hanyalah kesenangan semata. Tiada hal yang dapat kulakukan dan memberi manfaat, baik kepada diriku maupun orang lain. Hingga diriku teringat kembali apa tujuanku datang kemari, ke kota ini. . . .
”Zid, ikut yuk!” Ajak seorang temanku.
”Kemana?” sahutku.
”Ayo dah… ikut aja, pokoknya nanti kamu tahu sendiri!”
”Kemana sih, buat penasaran aja kamu…!”
Sejuk, rindang, dan angin semilir bertiup sepoi-sepoi menuju masjid. Ada halaman luas di pelatarannya tepat di sebelah selatan masjid, ada parkiran panjang di sebelahnya. Terdapat sebuah bangunan di sana, tepat beberapa meter setelah tangga pada pintu depan masjid dan di sebelah tempat wudlu. Setelah kulihat sekelilingnya, lalu mataku tertuju pada tulisan yang terpampang di sebuah papan pada bagian depan bangunan tersebut, di sana tertulis:Sekretariat Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Baabul Hikmah Universitas Mataram.
Kemudian aku pun masuk, di dalamnya terdapat 3 ruangan yang berukuran berbeda-beda. Ruang pertama sekitar 3×3 meter yang mungkin difungsikan untuk ruang kerja para pengurus lembaga ini, dan ruangan kedua yang luasnya sama dengan ruangan pertama yang sepertinya digunakan untuk tempat tinggal ta’mir masjid, kemudian ruangan ketiga yang luasnya kira-kira 4×8 meter yang disebut oleh temanku sebagai “ruang rapat” atau “aula LDK”. Katanya juga sebagai ruang serba guna tempat semua pertemuan, mulai dari rapat pengurus, pertemuan pekanan, menempel spanduk, tempat istirahat dari penatnya agenda-agenda LDK, tempat istirahat di waktu malam, bahkan tempat tamu menginap. Terkadang juga ditemukan kertas berserakan atau sisa makanan sehabis rapat sebelumnya, bahkan sepatu dan sandal yang menumpuk di sekitar pintu masuk.
”Mari kita buka syuro ini dengan melafadzkan al-Basmalah…” kata temanku yang mengajakku tadi dan memang se-angkatan denganku.
”Silahkan salah seorang ikhwan untuk tilawah,” lanjutnya sambil meminta salah seorang pemuda untuk membaca beberapa ayat suci al-Quran.
”Alhamdulillah, kita dapat berkumpul lagi dalam syuro hari ini. Sekarang kita akan membahas konsep acara untuk agenda besar kita pekan depan. Bagaimana, ada yang punya usulan? Tapi tunggu dulu sebentar, kita kedatangan saudara baru di sini, silahkan antum perkenalkan diri terlebih dahulu!” kata temanku yang kemudian memintaku untuk memperkenalkan diri dalam jamaah ini.
*          *          *
Jalan Pemuda Blok D alamatnya, nama lokasi yang sesuai untuk jiwa para pemuda khususnya mahasiswa/i yang tinggal dan berjuang di sini, di kampus ‘Seribu Cemara’. Tempat di mana semua agenda-agenda besar dimimpikan, di mana sekumpulan anak-anak muda memulai cita-cita, mencoba merealisasikan angan-angannya. Tempat untuk meluangkan sedikit dari waktu-waktu yang ada di sela-sela kuliahnya dan berusaha menjemput takdir-takdir besar dalam sejarah hidup para pemuda.
Biasanya ia ramai menjelang waktu Dzuhur ketika para kaum lelaki bersiap-siap mengambil air wudlu untuk menghadap Sang Khaliq, seusai menuntut ilmu di bangku-bangku kuliah, sesudah menambah kafa’ah ilmu dunia. Namun tempat ini akan lebih ramai lagi dengan syuro-syuro setelah Dzuhurnya, biasa disebut dengan sebutan syuro yang dalam istilah agama Islam atau artinya sama dengan rapat, ya begitulah karena ia juga nama salah satu dari nama sebuah surat di Al-Qur’an yg mulia.
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS.Asy-Syuura:38)
Bila agenda yang harus dibahas cukup mendesak, halaman rumput pun digunakan untuk “Syuting” (syuro penting). Yang terasakan justru itu lebih nyaman karena ditemani kicau burung, bunyi serangga pohon atau gugurnya dedaunan dan bunga-bunga kuning dari pohon-pohon di areal parkiran dan taman belakang masjid yang aku pun tak tahu nama pohon-pohon itu namun indah nian menambah wangi semerbak sekitar pelataran masjid. Membawaku akan gambaran surga yang tentu tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah tercium oleh hidung, tak pernah terdengar oleh telinga, bahkan tak pernah terbersit dalam pikiran manusia tentang indahnya jannah Sang Maha Pencipta, ALLAH ‘Azza wa Jalla.
”Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera Halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah Balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).” (QS. Al Insan: 20-22)
*          *          *
“Baiklah Yazid, kami percayakan kepada antum untuk menjadi MC atau moderator dalam acara seminar besok, Insya ALLAH. Tolong laksanakan amanah ini dengan baik, semoga ALLAH SwT senantiasa melancarkan segala agenda dakwah kita, Amiin… .” ujar sang ketua panitia yang tidak lain adalah temanku yang dahulu telah mengajakku bergabung dalam jamaah ini, dan saat ini aku pun telah menjadi bagian di dalamnya.
Akhirnya, kutemukan kembali jalan hidupku di sini. Cita-citaku untuk meraih impian, memenuhi segala harapan, dengan tekad yang tak ’kan hilang ditelan zaman. Di sini, di Jalan Pemuda ini, nama tempat yang diisi oleh anak-anak muda yang sesuai dengan semangatnya, para mahasiswa di kampus seribu cemara, aku bisa mengabdikan diri di jalanNYA. Berkobar, menyala, dan membakar jiwa dengan optimisme kepemudaan yang meresonansi segala harapan dan impian-impian.
Kuharap cita-cita ini, merubah muka dunia, dunia di sekitar jalan Pemuda yang telah mengisi hari-hariku dalam perjalananku di sini. Akan terus berlanjut seiring masuknya para pemuda angkatan baru, yang akan mengisi bangunan yang menjadi pintu gerbang penuh hikmah, dan ikut pula meramaikan jalan ini. Dalam rangka mengisi dan memenuhi panggilan hati menuju medan perjuangan suci, dakwah yang tiada henti.
*          *          *


Catatan:
Bulik    : sebutan/panggilan bibi atau adik perempuan ayah/ibu dalam bahasa Jawa
Syuro   : rapat, pertemuan
Ikhwan: sebutan/panggilan saudara laki-laki dalam Islam
Antum : kamu, anda
*    *    *    *

BIODATA PENULIS
NAMA            : DWI NANTA PRIHARTO
ALAMAT       : JL. INDUSTRI GG. GILI AIR I NO. 4, LINGKUNGAN  TAMAN SARI, AMPENAN, MATARAM, NTB
NO. TELP./HP: 08175745043
PUSKOMDA NUSRA. Diberdayakan oleh Blogger.

Sample Text

Pages

Theme Support